Skip to main content

Review Novel "Kami (Bukan) Sarjana Kertas" Karya J.S. Khairen

Kami (Bukan) Sarjana Kertas

Covel buku "Kami (Bukan) Sarjana Kertas

Buku ini membahas mengenai bagaimana kehidupan mahasiswa-mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan mereka. 

Di dalamnya, lengkap dengan permasalahan-permasalahan yang biasa dialami oleh para mahasiswa. Seperti penyimpangan yang dilakukan semasa kuliah, ada yang harus putus kuliah entah karena biaya atau karena keterbatasan kemampuan, ada yang kuliah dengan merasakan tertekan karena setiap saat diawasi oleh orang tuanya, ada yang berasal dari kampung dan menjalani kehidupan dengan mengerjakan pekerjaan sampingan, dan ada juga mahasiswa teladan yang begitu antusias dalam belajar dan mendapat gelar sarjana dengan lebih cepat atau tepat waktu.

Di dalam novel ini, ada Sania yang pernah masuk penjara gara-gara se-isap dua isap. Ada Randi yang menjadi mahasiswa paling pintar dan rajin. Ada Arko yang berasal dari kampung. Ada Gala yang merupakan anak orang kaya, dan ada Ogi yang hidupnya serba dapat masalah.

Kali ini, saya akan menjelaskan pada dua tokoh saja, yaitu Randi dan Ogi. Randi lulus lebih cepat daripada teman-temannya yang lain. Namun, setelah lulus pun ia cukup lama menunggu untuk mendapatkan pekerjaan. Mengirim CV ke mana-mana tapi tak kunjung ada panggilan. 

Pada akhirnya ia melakukan sesuatu hal yang tanpa ia sadari, dengan cara itu ia mendapatkan pekerjaanya sebagai jurnalis di sebuah kantor dan hanya menjadi karyawan biasa saja di sana.

Sementara Ogi, ia droup out dari kampusnya karena IPK-nya yang tidak mencukupi serta banyaknya masalah yang ia hadapi, mulai dari terbakarnya rumahnya, meninggalnya ayahnya, serta sulitnya mencari uang untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Dengan segala kesulitannya itu, tak ada yang menyangka bahwa takdir berkata lain. Ia malah mendapatkan pekerjaan di luar negeri. 

Ia malah memiliki kehidupan yang lebih baik dari pada kehidupan teman-teman seperjuangannya meski pada awalnya ialah yang paling bodoh bahkan ia sempat mencoba untuk bunuh diri.

Dari sini, kita bisa belajar bahwa tak ada yang tahu masa depan. Tak ada yang tahu seperti apa takdir seseorang. Orang yang tampak gagal sekarang bukan berarti seterusnya akan terus gagal, begitu pun sebaliknya.

Dan masih banyak lagi pelajaran yang lain yang bisa kita petik dari buku “kami bukan sarjana kertas” ini. Satu lagi yang menarik dari buku ini, yaitu setiap akhir bab selalu disajikan dengan qoutes yang menarik.

Kekurangan:

Adapun kekurangan buku ini hanya dari segi penulisannya saja. Masih banyak tulisan yang typo yang saya temukan (Hal. 1 pada kata pulat, seharusnya pula. Pada Hal. 13, paragraf 3 pada kata Ranjau dan Arko, seharusnya Ranjau dan Ogi). Ada pula susunan kata yang tanpa diantarai spasi. 

Tapi, secara keseluruhan, isi bukunya sangat bagus, sangat rekomended untuk dibaca. Namanya juga manusia biasa, pasti gak bisa sempurna.

Baca juga: Review buku "Reasons To Stay Alive"

Berikut merupakan rangkuman singkat mengenai isi bukunya:
Kutipan dari buku "Kami (Bukan) Sarjana kertas

Bu Lira merupakan dosen konseling yang mengawasi kelompoknya ogi yang terdiri dari Sania, Juwisa, Gala, Ranjau, Chaterin dan juga Arko. Namun, belum lama mereka bergabung di kampus UDEl, salah satu dari mereka malah harus pergi, yaitu Chaterin. Ia ingin melanjutkan kuliahnya di luar Negeri, lebih tepatnya di Belanda mengambil jurusan hukum.

Ogi yang masuk kampus UDEL karena faktor ikut-ikutan dan juga paksaan dari orangtanya ternyata tidak begitu menikmati jurusan kampusnya. Sementara Ranjau yang menjadi alasan Ogi ikut kuliah, ia begitu bersemangat, sama seperti awalnya.

Mereka berdua ini memang sudah saling kenal sebelum memasuki Kampus UDEL. Justru Ranjaulah yang mengajak Ogi untuk kuliah. Tapi, tau-taunya Ranjau malah peduli dengan diri sendiri. Lalu, ogi diabaikan. Apalagi setelah ia mendapatkan teman baru, yaitu Arko. Inilah salah satu alasannya mengapa Ogi merasa sangat down. Ia sering membolos sampai kabarnya itu diketahui oleh bu Lira sebagai dosen konselingnya.

Bu lira sebagai seorang dosen konseling, tentu telah menjadi tanggung jawabnya untuk menangani mahasiswwa bermasalah seperti Ogi ini. Hanya dengan cara sederhana, yaitu janji kecoak. Jadilah kecoak yang mampu bertahan dan sebuah pelukan hangat dari bu Lira yang masih tergolong sebagai dosen muda cukup untuk menjadi pemompa semangat bagi Ogi.

Setelah sesi konseling itu, ia sungguh berubah. Ia tak lagi membolos dan selalu duduk di bangku depan. Meski ia tetap saja sulit memahami mata kuliah, setidaknya ia telah berusaha hadir dan mendengarkan. 

Hari-harinya mulai berjalan normal, sudah memiliki beberapa kenalan dan juga kelihaiannya dalam IT membuatnya menawarakan jasa pada teman-temannya. berawal dari Arko hingga si Gala, si anak orang kaya itu. Ogi memang bodoh, tapi tidak dalam semua hal.

Dalam satu semester Ogi berhasil meningkatkan nilai IPK-nya. Jika pada semester satu, ia hanya lulus 7 SKS (tiga mata kuliah) pada semester 2 ini ia lulus 18 SKS (semua mata kuliah).

Belum sempat ia menyampaikan kabar gemira tersebut pada babenya, orang yang rela mencari pinjaman untuk biaya kuliah Ogi. Babenya malah sudah dipanggil sang Pencipta. Hancur hati Ogi. 

Bengkel kecil yang dijalankan Babenya terpaksa harus ia yang jalankan. Ia harus membagi waktu untuk kuliah dan juga jaga bengkel. Belum lagi laptopnya yang rusak membuatnya tidak bisa lagi mendapatkan penghasilan dari kemampuan IT-nya.

Dari semua hal itu, cukup untuk membuatnya merasa hancur, putus asa. Apalagi soal UAS sama sekali tidak bisa lagi ia jawab dengan benar. Ia telah memikirkannya dengan matang. 

Selepas UAS ia kembali ke lokasi rumahnya yang dulu pernah kebakaran. Di sanalah ia ingin mengakhiri hidupnya. Namun, belum sempat napasnya melayang, Ranjau, Arko dan Sania sudah datang. Arko tanpa pikir panjang langsung menggopong tubuh Ogi dengan tubuhnya yang kurus. Yah, mereka menyelamatkannya

Siapa sangka, si Ogi yang public speaking-nya hancur, nilai IPK-nya selalu hancur, yang bengkel kecilnya sepi pengunjung, yang rumahnya kebakar, yang hampir kehilangan nyawanya, kini ia mendapatkan tawaran ke Amerika. Ia akan bekerja di sana selama setahun. Setelah itu, ia bisa memilih untuk tetap di sana atau balik ke indonesia.

Setelah lama Gala mengambil cuti, ia akhirnya bertemu Arko di kampungya Arko. Arko sedang pulkam dan Gala sedang mengerjakan proyek di sana. Dari sanalah yang membantu Gala berdamai dengan Ayahnya. 

Bukan tanpa alasan, Ayahnya mengekangnya karena menurutnya itulah cara terbaik untuk masa depan Gala. Karena kepahitan hidup telah ia telan dan ia tak ingin hal sama terjadi pada anaknya.

Baca juga : Mau Jadi Penulis Tapi Bukan Jurusan Sastra, Trus GImana Dong?

                    Mau Jadi Penulis? Intip Caranya Yuk!

                    Review Novel "Kami (Bukan) Jongos Berdasi" Karya J.S. Khairen

                    Review Buku: How to Respect Myself Karya Yoon Hong Gyun


Comments

Popular posts from this blog

Cara Penulisan Tanda Baca Pada Dialog Tag (Novel/Cerpen)

Bagaimana sih cara penulisan tanda baca pada dialog tag? Balik lagi nih sama aku, dengererin aku bercerita yahhh. Cuma sebentar kok, hehehe…. Kali ini aku mau singgung sedikit tentang dialog tag . Biasanya dialog tag ini dijumpai dalam karya fiksi seperti novel atau cerpen. Untuk mengenal lebih dalam lagi apa itu karya fiksi silahkan liat di sini yahh  definisi fiksi dan nonfiksi Jadi kali ini aku bakalan ceritain tentang diriku yang baru-baru ini terjun dalam dunia kepenulisan. Baru banget sih masih sekitaran bulan september kemarin 2021. Gak pernah nyangka bahwa suatu hari aku bakalan terjun dalam dunia literasi. Dulu saat sekolah, aku selalu mikir kayak gini “ngapain sih belajar bahasa Indo, gak guna banget. Toh dalam kehidupan sehari-hari juga gak kepake.  Setiap hari kita ngomong juga gak perlu tuh pake kalimat yang terstruktur seperti harus pake kalimat subjek+objek+predikat+keterangan.  Gak ada tuh kek gituan, bahasa baku juga gak kepake. Lalu apa dong tujua...

Review Buku: How to Respect Myself Karya Yoon Hong Gyun

HOW TO RESPECT MYSELF Buku "How To Respect Myself" Buku “How To Respect Myself” adalah buku yang membahas tentang harga diri, tips-tips   meningkatkan harga diri dan mencintai diri sendiri.  Buku ini ditulis oleh Yoon Hong Gyun yang merupakan dokter kejiwaan. Di dalam buku ini terdapat banyak sekali latihan-latihan yang dapat dipraktekkan bagi pembaca untuk meningkatkan kepercayaan diri mereka. Kelebihan Yang menarik dari buku ini ialah dokter Yoon Hong Gyun kebanyakan mengangkat kisah yang dialami oleh pasiennya termasuk yang dialami oleh dirinya sendiri. Dengan begitu, informasi yang didapat pembaca terasa begitu nyata. Kekurangan Adapun kekurangan dari buku ini yaitu, karena pembagian bab ke dalam sub bab yang banyak sehingga terdapat beberapa sub bab yang terlalu singkat sehingga masih meninggalkan ketergantungan pembahasan. Meski demikian, janganlah kita terfokus pada kekurangannya tapi coba lihat berapa banyak kelebihan yang dipaparkan buku ini dalam membantu oran...

Pengertian Denotasi dan Konotasi yang mudah dipahami

  Denotasi dan Konotasi itu apa sih?  Denotasi dan konotasi ini lumayan mirip yah kayak saudara kembar aja, hehehe…. Benar! Layaknya saudara kembar yang tentunya mirip tetapi tetap saja memiliki perbedaan.  Meski mereka terlahir dari rahim yang sama, memiliki wajah yang sama tetap saja ada perbedaannya baik perbedaan besar maupun kecil. Jika si Rina memiliki tahi lalat di hidungnya, biasanya Rana tidak memilikinya. Atau mungkin memiliki tetapi tidak terletak di tempat yang sama dengan Rina. Jika si Rina orangnya cerewet, besar kemungkinan si Rana pendiam. Sama halnya dengan Mas Kono dan Mas Deno ini. Denotasi/denotatif adalah pengungkapan suatu kata yang merujuk pada arti yang sebenarnya sehingga mudah dipahami. Sedangkan Konotasi/konotatif lebih merujuk pada arti yang bukan maksud sesungguhnya atau sering disebut dengan kata kiasan. Denotasi/denotatif lebih mudah kita temukan karena merupakan kata yang sebenarnya tertulis pada kalimat. Sementara Kata konotasi/...