KAMI (BUKAN) JONGOS BERDASI

Cover buku "Kami (Bukan) Jomgos Berdasi

Dalam
novel ini, menceritakan kehidupan sebuah circle persahabatan yang
beranggotakan Sania, Gala, Juwisa, Randi, Arko, Ogi dan juga Lira.
Juwisa
begitu tertarik melanjutkan S2 di luar negeri.
Ia
merupakan gadis hijabers yang dulunya mengambil S1 jurusan bisnis
dan manajemen. Lalu, sekarang tertarik dengan jurusan psikologi konsumen.
Sania,
selain bekerja di Bank EEK (Equity of Kathar), ia diam-diam juga menjadi
penyanyi kafe. Ia bergabung dengan band yang ada di sana yang kebetulan butuh
vokalis.
Tapi,
belum juga mengering senyuman sania, ia kembali digemparkan dengan kenyataan
bahwa vokalis lama telah kembali.
Beruntunglah,
setelah berdiskusi dengan para member band ditemukan titik temu. Mereka tidak
keberatan jika memiliki dua vokalis sehingga Sania tidak perlu dipecat.
Kegiatan
itu bukan hanya sekadar pekerjaan baginya untuk menghasilkan uang, tapi sebuah
mimpi yang pernah terkubur yang kembali lagi digali.
Sementara
Randi, ia malah datang terlambat saat sedang ingin meliput berita peletakan
batu pertama pemindahan Ibu Kota ke Kalimantan. Alhasil, ia ketinggalan
pesawat.
Dengan
berat hari, ia mengorbankan uang tabungan yang sengaja ia persiapkan untuk
pernikahannya yang entah dengan siapa, untuk membeli tiket yang lainnya demi
mengejar karir sebagai presenter.
Suatu
hari saat Sania sedang lembur di kantornya, emosinya lepas kendali. Atasan yang
selalu memintanya mengerjakan pekerjaan yang bukan tanggung jawab Sania kembali
berulah.
Hal itu membuat
Sania tak bisa menahan diri untuk tidak berkata kasar. Dan pada akhirnya malam
itu sania mengundurkan diri dalam emosi yang mebuncah.
Sania
masih bertahan beberapa hari di kantornya setelah kejadian itu sebelum akhirnya
ia benar-benar hengkang dari sana. Ia ingin mendapat kerjaan baru dulu di
tempat lain sebelum ia benar-benar resign dari Bank EEK.
Beberapa
hari kemudian, Sania telah mendapatkan pekerjaan baru di tempat lain. Begitu
pun Juwisa yang dulunya mereka memang melamar kerja barengan. Juwisa diterima
di kementerian pertanian. Namun, kebahagiaan yang sempat merekah itu tak
bertahan lama.
Suatu
hari setelah Juwisa pulang kerja, ia kecelakaan. Kaki kanannya nyaris putus dan
tangan kanannya bergemeletuk ke arah yang tidak seharusnya. Tidak ada solusi
lain selain amputasi.
Ini bukan
di-DO dari kampus seperti Ogi. Ini bukan tertangkap polisi karena seisap
dua isap seperti Sania. Ini bukan beban mental tertekan karena
dikekang orangtua terus sejak kecil seperti Gala.
Ini bukan
jebakan kelas menengah yang selalu ingin lebih seperti Randi. Ini bukan ijazah
yang tak kunjung dapat seperti Arko. Bukan masalah perseteruan adik-kakak serta
bisnis yang bangkrut seperti Lira.
Ini
adalah kehilangan anggota badan, sebuah beban yang tak satu orang pun sanggup mendeskripsikannya.
Apa kabar
dengan Ogi?
Yah, dia
adalah mahasiswa yang di-Do bahkan sempat melakukan percobaan bunuh diri. Namun
sekarang, dunianya seakan terbalik.
Ia
bekerja di Amerika, menjadi orang penting di sana. Bahkan sedang berencana
membuat platform di negaranya sendri (Indonesia). Dia menjadi salah satu orang
penting di dunia informasi teknologi.
Ogi yang
dulunya tukang tambal ban, yang dulunya tak bisa apa-apa, yang public
speakingnya nol besar, yang bahasa inggrisnya yes no yes no, kini malah menjadi
salah satu anak muda penting milik negeri ini.
Bahkan
mampu membiayai kehidupan ibu dan adiknya termasuk membelikannya sebuah rumah.
Kehidupan
Sania semakin membaik, ia bahkan telah mampu memberikan gajinya kepada
orangtuanya. Semenjak ia bekerja di Kuyjek sebagai business Inteligence,
ia memiliki kehidupan yang lebih baik.
Randi
beralih profesi sebagai model. Kini wajahnya telah terpampang di mana-mana,
duitnya meladak-ledak sekarang.
Adapun
Arko, setelah ke Eropa ia kembali ke kampungya menemani amaknya, begitupun Lira
yang justru meninggalkan negaranya untuk sebuah mimpi pula.
Tak
tertinggal pula Wisa, ia kembali mendapati semangat hidupya. Ia kembali
melanjutkan S2-nya meski bukan di luar negeri.
Buku ini
menjabarkan cerita fiksi namun realistis. Jika teme-temen suka cerita yang
realistis, maka novel “Kami (bukan) jongos berdasi” ini sangat saya
rekomendasikan.
Cerita
tentang kehidupan nyata terpampang jelas di sana. Bagaimana kehidupan para
mahasiswa setelah lulus, tepontang panting mencari kerja, kemudian
terpantul-pantul bagaikan bola basket dalam kehidupan. Hingga akhirnya takluk
pada takdir.
Yang
menarik dari buku ini adalah, setiap akhir bab-nya selalu disajikan qoutes yang
menarik. Dan di dalam buku ini terdapat begitu banyak pesan moral yang dapat
dipetik.
Sangat recommended deh
pokoknya, cocok dipakai berkaca untuk mengetahui bagaimana kehidupan yang
sebenarnya.
Comments
Post a Comment