Langkah awal memulai menulis agar pondasi tulisannya kuat?
Apasih yang dibutuhkan oleh sorang penulis?
Kamu pengen jadi penulis tapi gak ngerti sama sekali gimana caranya?
Yah kaloo menurut aku sih, nulis yah nulis aja. Masalah bener apa salanya itu urusan belakang. Karena seiring berjalannya waktu kita akan belajar dari pengalaman itu sendiri, dan semakin banyak karya yang kita lahirkan semakin banyak pula pembelajaran yang dapat kita petik dari karya kita.
Skill hebat itu gak serta merta ada, gak langsung melekat dari diri seseorang tetapi juga butuh diasah. Penulis hebat juga gak langsung bisa booming karyanya, pasti awalnya itu banyak juga latihan, banyak juga yang direvisi. Jadi kalau memang niat mau nulis yah nulis aja, publish aja dulu.
Tetapi sbelum itu tahukah kamu apa yang dibutuhkan seorang penulis sebelum memulai menulis?
Yups tentu saja kemauan. Ya iyalah kalau gak ada kemauan gimana caranya. Konsisten. Ya iyalah kalau gak konsisten mah gimana caranya tulisannya dapat tamat. Nulis seharian full terus besoknya sudah berhenti yah gimana mau kelar, gimana mau ngelahirin karya ya kan?
Selain
dari kemauan dan kekonsistenan ada yang lain lagi loh yang pelu penulis
lakuian. Apaan tuh? Yuk disimak!
1. Observasi
Semuanya pasti tahu kan observasi itu apa? iya betul. Observasi berarti pengamatan guys. Artinya, seseorang dapat merasakan dan kemudian memahami secara langsung.
Seperti yang dikatakan dhikarey nih dalam webinarnya bahwa jika kita ingin menulis kisah tentang anak sekolahan yah kita mesti amati dulu apa saja kebiasaan anak sekolahan, bagaimana suasana kelasnya, berapa uang jajannya dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan anak sekolahan.
Apalagi jika kita pernah nih jadi anak sekolahan pasti kita sudah pernah dong merasakannya secara langsung. Hanya saja dalam hal ini memang terkadang terdapat perbedaan karena anak sekolahan jamannya kita belum tentu dengan anak sekolah jaman modern.
Jadi, kita bebas-bebas aja sih kalau mau nulis versi sekarang atau dulu gak ada
larangan kok tergantung kreativitas masing-masing. Intinya jangan sampai
melenceng dari yang seharusnya sehingga menyebabkan pihak lain tersinggung atau
tidak nyaman. Okeh?
2. Referensi
Referensi adalah sumber acuan atau contoh atau informasi tentang sesuatu. Referensi dalam hal ini dapat diambil dari artikel, atau mungkin buku-buku. Kita sebelum menulis tentang kota Jogja terlebih dahulu harus mengumpulkan informasi yang dibutuhkan berkenaan dengan kota jogja.
kita perlu untuk mengumpulkan informasi, baik dari hasil pengamatan langsung maupun dari sumber lain. Selain itu referensi yang dimaksud di sini juga berupa patokan dalam menulis.
Misalnya, kita mau menulis cerita horor maka otomatis kita harus menjadikan buku-buku dengan genre horor sebagai acuan kita.
Kita harus banyak membaca buku yeng bercerita tentang kisah horor agak kemampuan
kita mengolah kosa kata juga meningkat dan wawasan kita mengenai kisah itu juga
lebih bertambah sehingga kita nantinya saat menulis bisa megembangkan
ide.
3. Inspirasi
Inspirasi adalah seseuatu yang membuat kita melakukan hal yang kreatif.
Gimana yah ngomongnya.
Maksudya gini kalau misalkan kita ngeliat orang pinter, kaya, terus kamu juga
merasa wahh aku juga pengen tuh kek orang itu, pengen kaya juga. Nah itu
namaya terinspirasi. Maksudnya tuh sebuah dorongan yang muncul dalam diri kita
yang membuat kita mau melakukan sesutu yang kreatif.
Kalau
misalnya dalam dunia kepenulisan nih, contohnya dalam kisah nyata kamu mendengar
sebuah cerita tentang kematian sepasang suami istri, anggaplah kisa Vanessa Angel dan Bibi Ardiansyah. Truss kamu jadi kepengen tuh nulis sebuah novel yang
menceritakan tentang kisah mereka meski nggak 100% itu cerita yang real. Sampai
sini semoga ngerti yahh.
Okeh sampai sini dulu yah guys. Observasi, referensi dan juga inspirasi gak hanya
untuk karya fiksi saja tetapi berlaku juga untuk karya Nonfiksi bahkan untuk hal diluar dari kepenulisan pun juga berlaku ketiga hal ini. Selamat
berkarya guys. Fighthing!
Comments
Post a Comment